kabar pena Nusantara
BOGOR — Kemeriahan Kirab Mahkota Binokasih yang merupakan bagian dari Hari Jadi Bogor (HJB) yang berlangsung semalam, 8 Mei 2026, menjadi momen berharga bagi pelestarian budaya di Kota Bogor. Namun, seiring dengan membeludaknya antusiasme warga, Ahmad Muhibullah, S.H., seorang praktisi hukum dan lawyer di Bogor, menyampaikan evaluasi kritis atas pemilihan Jalan Suryakencana sebagai titik puncak acara. Ia menilai kawasan tersebut tidak memadai secara kapasitas untuk menampung ribuan penonton secara aman.
Muhibullah menilai pemilihan kawasan Jalan Suryakencana sebagai pusat kerumunan perlu ditinjau ulang demi menjamin standar kenyamanan dan keselamatan masyarakat banyak.
"Saya sangat mengapresiasi upaya pemerintah dalam melestarikan budaya Sunda melalui acara sebesar ini. Antusiasme warga yang luar biasa justru membuktikan betapa besarnya kecintaan masyarakat terhadap Kota Bogor. Saya melihat adanya kebutuhan mendesak untuk ruang yang lebih luas bagi warga. Kita ingin masyarakat bisa merayakan budaya tanpa harus merasa was-was karena kondisi jalan yang terlalu padat dan berdesakan," ujar Muhibullah.
Berdasarkan pengamatannya, kondisi di Jalan Suryakencana saat puncak acara mencapai titik kepadatan yang sangat tinggi. Ia menyoroti bahwa keselamatan publik harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap penyelenggaraan acara skala besar, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Selain soal keselamatan, akses keluar-masuk yang terbatas juga dinilai sangat mengkhawatirkan apabila terjadi keadaan darurat yang membutuhkan penanganan medis cepat atau evakuasi massal.
Pengalaman serupa pernah ia rasakan langsung saat menghadiri Cap Go Meh di kawasan yang sama bersama anaknya. "Kami sudah hadir tapi panggungnya tidak kelihatan sama sekali karena terlalu padat. Anak saya kecewa, dan saya khawatir dengan kondisi desakan di sekitar kami," ujarnya.
Ia memberikan pandangan agar ke depannya pemerintah kota dapat mempertimbangkan skema lokasi yang lebih terbuka dengan memusatkan panggung utama di area yang memiliki daya tampung lebih besar, seperti Alun-Alun atau Lapangan Sempur atau kawasan lainnya, agar pergerakan warga lebih cair. Sementara itu, Jalan Suryakencana tetap dapat difungsikan sebagai rute lintasan kirab yang bergerak, sehingga nilai historis kawasan tersebut tetap terjaga tanpa harus menciptakan penumpukan massa yang statis di satu titik.
"Ini adalah masukan konstruktif demi kemajuan Kota Bogor. Kita ingin setiap agenda besar kota tidak hanya sukses secara seremonial, tapi juga sukses dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap warga yang hadir," tutup Muhibullah.
:Red

Posting Komentar